WELCOME TO MY BLOG

Welcome to my blog

Selamat datang di blogku. Kalau Anda punya
saran terhadap blog ini, silakan berkomentar di https://ellen-def.blogspot.com/, terima kasih.

Friday, 1 March 2019

Asyiknya Berwisata di Kota Batu-Malang, Jawa Timur

Sebetulnya perjalanan wisata ke Kota Batu dan Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur ini sudah dilakukan pada akhir bulan September 2018, namun saya baru menuangkannya di sini tahun 2019. Maklum, malas menulis melanda, he he he. Lanjut...
Sebelum berwisata, pencarian daerah-daerah wisata di Kota Batu terlebih dahulu kami lakukan dengan searching di internet. Karena tidak terlalu familiar dengan daerah ini, kami putuskan untuk menggunakan jasa tour and travel langsung di Kota Batu menggunakan sistem paket, tiket-tiket masuk ke tempat wisata telah termasuk dalam paket tersebut. Pilihan kami adalah paket tur 2 hari 1 malam (2D1N) dengan tujuan wisata ke Alun-Alun Kota Batu, Gunung Bromo di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Museum Angkut, Batu Night Spectacular (BNS), Batu Flower Garden (BTG), Air Terjun Coban Rondo, Bukit Paralayang dan Taman Langit, Pusat Oleh-Oleh Khas Batu Kota Malang, serta Kampung Warna-Warni Kota Malang. Paket tur yang kami ambil pada bulan September 2018 dari sebuah agen tur dan travel Kota Batu adalah sebesar  Rp. 1,08 juta per orang (di luar penginapan karena kami sudah pesan tempat menginap) untuk lima orang dan tambahan sebesar Rp. 250 ribu per orang untuk penggantian jenis mobil jemputan dari Bandara Djuanda, Surabaya dan pengantaran kembali dari tempat penginapan ke bandara.
Namun, karena keterbatasan waktu dan terlalu lama di BTG yang menghabiskan waktu sehari penuh karena kami mengambil hampir semua paket spot foto (sebagian di luar paket tur), maka akhirnya kami tidak jadi ke Kampung Warna-Warni Kota Malang. Kami pun tidak jadi mencoba tandem paralayang (biaya di luar paket wisata) karena hembusan angin pada saat itu cukup kencang dan tim tandem paralayang tidak ingin mengambil risiko sehingga tutup.

1. Alun-Alun Kota Batu
Gunung Panderman dari kejauhan

Hari pertama, kami dijemput dari Bandara Djuanda Surabaya. Kami beberapa jam menyelesaikan urusan di Surabaya dan menyempatkan diri makan siang, baru setelah itu kami menuju Kota Batu. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 3 (tiga) jam menuju tempat penginapan. Penginapan yang kami pilih berlokasi di Jalan Abdul Gani Atas, Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Pemandangannya indah karena dari depan pintu kamar kami bisa menyaksikan Gunung Panderman.






Setelah beristirahat beberapa jam, malamnya kami menuju Alun-Alun Kota Batu. Kawasan tersebut sudah dipenuhi oleh banyak orang karena berdekatan dengan kawasan pasar (Pasar Laron), banyak pedagang yang menjual berbagai jenis makanan, minuman, hingga aksesoris untuk oleh-oleh bagi yang berkunjung dari luar kota. Di sini kami mencoba makan ketan yang menjadi salah satu makan khas Batu, yakni di Pos Ketan Legenda. Harganya terjangkau, antara Rp. 15 ribu s/d Rp. 25 ribu tergantung variasi. Selain itu, kami juga mencoba jenis makanan lainnya.
Pasar Laron area Alun-Alun Kota Batu
Perut kenyang. Saya dan seorang teman mencoba naik kuda yang ada di kawasan Alun-Alun yang dihargai Rp. 10 ribu per sekali putaran. Kudanya dituntun oleh sang pemilik dan kami diajak menyusuri jalan bolak-balik, dekat kok jaraknya dan tidak membuat kuda cepat lelah.
Belum puas dengan itu, sambil menunggu teman-teman yang lain berbelanja, saya dan teman saya masuk ke alun-alun dan ingin mencoba bianglala. Akan tetapi, melihat antrean yang masih panjang, kami tidak jadi dan hanya berkeliling di alun-alun. Selain bianglala, di sini kami melihat bundaran apel yang menjadi ciri khas Kota Malang-Batu, lampu-lampu yang dihias menyerupai pohon, tanaman, dan hewan. Pengunjung yang ingin beristirahat bisa duduk di bangku yang telah disediakan di dalam alun-alun.
Alun-Alun Kota Batu saat malam hari
Setelah berkeliling di area alun-alun, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak karena tengah malam akan menuju kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, dan Semeru (TNBTS) untuk menyaksikan terbitnya matahari dan keindahan alam lainnya di kawasan tersebut.

2. Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Sekitar pukul 23.30 WIB, kami bersiap-siap untuk berangkat menuju TNBTS. Berhubung berasal dari daerah panas di Pulau Kalimantan, kami bersiap menggunakan jaket tebal, sepatu dan kaus kaki, masker mulut, serta sarung tangan. Bahkan ada teman yang menambah pelindung berupa topi kupluk yang dibeli setibanya di area penyewaan mobil jeep di kawasan TNBTS.
Rute wisata kami adalah penanjakan Bukit Cinta untuk menyaksikan terbitnya matahari pagi, area berpasir dekat Bukit Kingkong, Bukit Teletubbies, kawah Gunung Bromo, dan hamparan pasir yang dinamakan Pasir Berbisik. Kami masuk melalui Kabupaten Malang.
Pihak tur dan travel mengantar kami ke area penyewaan mobil jeep yang telah dipesan sebelumnya. Berdasarkan info pihak penyewaan jeep, tur Bromo pulang pergi adalah sebesar Rp. 800 ribu. Jarak tempuh dari penginapan ke area penyewaan di kawasan TNBTS adalah sekitar 38 kilometer (km) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit. Setelah bertukar kendaraan, kami melanjutkan perjalanan. Saat hendak memasuki gerbang ucapan selamat datang di kawasan TNBTS yang berjarak sekitar 17 km dari area penyewaan mobil jeep, pengendara jeep melaporkan kedatangan kami ke petugas dari Resort Coban Trisula Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berlokasi di kawasan TNBTS.
Resort Coban Trisula
Kami tiba di area Bukit Cinta sekitar pukul 03.20 WIB. Suasananya masih gelap karena menjelang pagi. Sudah ada beberapa jeep yang membawa wisatawan. Semakin lama, jeep yang datang semakin banyak, dengan satu jeep diisi sekitar 4-5 orang di luar pengemudi jeep. Sembari menunggu pukul 04.15 WIB untuk mendaki tanjakan Bukit Cinta, kami mengisi perut di warung yang tersebar di sekitar area.
Cuacanya sangat dingin dengan suhu 5 derajat celcius berdasarkan informasi dari internet. Meskipun berada di kawasan pegunungan, sinyal telepon dan internet masih bisa dijangkau meskipun kualitasnya terbatas. Makanan dan minuman kami cepat sekali menjadi dingin. Saat cuci muka dan buang air di toilet pun, airnya sangat dingin seperti air es. Harap dimaklumi kami yang berasal dari daerah panas dari pagi sampai pagi ini dengan suhu air normal, he he he...
Pukul 04.15 WIB kami bersama-sama wisatawan lainnya segera berjalan kaki ke penanjakan Bukit Cinta. Jaraknya cukup dekat, tidak terlalu lama untuk didaki, sekitar 4-5 menit. Setibanya di atas, sudah banyak pengunjung lainnya dengan aktivitas masing-masing. Ada yang duduk, foto bersama dan sendiri, berdiri dengan teman-temannya, dan bercanda. Bahkan, beberapa pengunjung yang berasal dari daerah Nusa Tenggara memutar lagu daerah mereka yang berjudul Maumere. Lagu ini biasanya digunakan untuk mengiringi senam Maumere yang sangat populer pada tahun 2018.
Area Bukit Cinta
Sinar matahari mulai terlihat sekitar pukul 04.40 WIB. Pengunjung mulai berlomba untuk mengabadikannya, demikian juga dengan kami. Menyaksikan matahari terbit dari kawasan TNBTS memang merupakan momen yang menyenangkan. 30 menit kemudian, kami beranjak turun meneruskan perjalanan ke obyek wisata lainnya di kawasan TNBTS.
Menyaksikan matahari terbit di Bukit Cinta
Matahari terbit dan menampakkan sinarnya yang berwarna lembayung (kuning kemerahan)
Beberapa gunung dilihat dari Bukit Cinta setelah terbitnya matahari
Perjalanan selanjutnya adalah area dekat Bukit Kingkong. Kami berhenti sebentar di sini untuk foto-foto.
Area Bukit Kingkong, gambar paling kanan adalah Bukit Kingkong
Kami kemudian menuju area kawah Gunung Bromo. Jeep berhenti dengan jarak sekitar dua kilometer dari kawah. Untuk mencapai kawah ada dua pilihan, jalan kaki atau menggunakan kuda. Berhubung waktu yang cukup terbatas, saya dan dua orang teman (ada beberapa teman yang tidak ikut naik karena agak lelah) memutuskan untuk naik kuda. Harganya pulang pergi adalah Rp. 150 ribu. Kami dikawal oleh pemilik kuda yang berjalan kaki menuntun kudanya. Daerah Bromo yang terkenal dengan lautan pasirnya membuat pengunjung harus tetap menggunakan masker mulut. Pura Luhur Poten yang merupakan tempat sembahyang penganut agama Hindu dari suku Tengger untuk menyembah Dewa Brahma dapat dilihat di area Gunung Bromo. 

Menuju Puncak Gunung Bromo
Sisi kiri dan kanan area menuju puncak Gunung Bromo
Kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan sedikit kepulan asap
Kami ada di area kawah Gunung Bromo hingga pukul 08.00 WIB, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke area Pasir Berbisik. Pasir Berbisik seperti lautan pasir berwarna kecoklatan. Foto yang diambil terkesan seperti lukisan. Dikutip dari https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3258081/begini-asal-muasal-populernya-nama-pasir-berbisik-di-bromo, nama Pasir Berbisik diilhami dari sebuah film karya sutradara Nan Achnas tahun 2001 yang berjudul Pasir Berbisik. Film tersebut menceritakan seorang perempuan desa bernama Daya yang tinggal di sebuah perkampungan miskin bersama ibunya yang sudah lama ditinggal oleh suaminya sejak Daya masih kecil. Kondisi lingkungan yang tidak selalu aman serta jarak yang jauh dari peradaban modern membuat ibunya sangat protektif sehingga Daya suka bertingkah aneh. Salah satunya, ia sering menelungkupkan tubuhnya ke tanah pasir, karena ia merasa bahwa pasir berbisik kepadanya.
Masih menurut travel.detik.com, fenomena pasir berbisik disebabkan karena pasir-pasir yang berterbangan ketika angin bertiup. Butiran-butiran pasir yang berterbangan tersebut terdengar seperti bisikan yang sampai ke telinga setiap orang yang melewatinya. Bentuknya juga bergelombang menyerupai ombak-ombak kecil.
Pasir Berbisik
Kami hanya berhenti sebentar di area ini, karena kami akan menuju ke area padang savana Bukit Teletubbies. Sebetulnya Bukit Teletubbies sangat hijau sebelum bulan September 2018, tetapi saat kedatangan kami arealnya agak gersang dan kebanyakan warna rumput berubah coklat. Hal ini disebabkan pada awal September 2018 terjadi kebakaran lahan sekitar 70 hektare di TNBTS pada hari Sabtu, 1 September 2018 hingga berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan untuk pemadaman kebakaran lahan pada hari Selasa, 04 September 2018 (sumber: https://news.okezone.com/read/2018/09/06/519/1947100/70-hektare-lahan-terbakar-butuh-sebulan-untuk-gunung-bromo-kembali-pulih).
Bukit Teletubbies dan sekitarnya pada akhir September 2018
Akhirnya, perjalanan di TNBTS selesai pada pukul 09.00 WIB dan kami kembali ke penginapan untuk beristirahat sebelum melanjutkan wisata. Video amatir di TNBTS dapat dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=Z5NZ5elr3dg&t=5s

3. Museum Angkut

Gelang Museum Angkut
Karena kecapean akibat kurang istirahat, kami cukup lama beristirahat di penginapan. Kami mulai melanjutkan wisata sore hari, yaitu ke Museum Angkut yang jaraknya dari penginapan cukup dekat, yaitu di Jalan Sultan Agung, Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Tiket masuk Museum Angkut saat itu adalah sebesar Rp. 100 ribu per orang di luar tarif parkir kendaraan karena kami datang saat weekend dan masing-masing pengunjung yang membayar tiket masuk diberikan gelang kertas yang dipasang di tangan. Tujuannya agar pengelola museum mengetahui pengunjung museum yang telah melaksanakan kewajiban administrasi sebelum masuk ke museum.


Bersumber dari https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Angkut, Museum Angkut merupakan museum transportasi di kawasan seluas 3,8 hektare di lereng Gunung Panderman dan memiliki lebih dari 300 koleksi jenis angkutan tradisional hingga modern. Museum ini terbagi dalam beberapa zona yang didekorasi dengan setting landscape model bangunan dari benua Asia, Eropa hingga Amerika. Museum ini didirikan pada tanggal 9 Maret 2014 dan dikelola oleh Jawa Timur Park Group yang sebelumnya juga membangun Batu Secret Zoo, BNS, Eco Green Park, dan Museum Satwa.
Museum Angkut
Hampir tiga jam kami mengelilingi Museum Angkut karena begitu banyaknya koleksi, bahkan ada yang belum kami datangi. Kami perlu makan dan minum dulu sebelum melanjutkan wisata ke tempatl lain


4. Batu Flower Garden (BFG)
Hari berikutnya kami seharian berada di BFG, dari pagi sampai sore hari. Ini disebabkan kami memesan hampir semua spot foto, sekitar 17 spot. Sekitar 10 spot foto sudah termasuk paket, sisanya kami tambah. Saking banyaknya spot, sepertinya di sini akan kebanyakan foto khusus untuk wisata BFG, ha ha ha... Tp gak deh, sedikit saja dimasukkan ke sini karena sudah terlalu banyak foto yang diunggah.
Harga tiket masuk BFG sebesar Rp. 25 ribu per orang di luar tarif parkir kendaraan. Untuk mencapai BFG yang wilayahnya di daerah dataran tinggi, kami diantar menggunakan kendaraan roda dua dengan biaya Rp. 10 ribu per orang. Ini semua sudah termasuk paket tur kami.
Harga spot foto di BFG bervariasi antara Rp. 10 ribu s/d Rp 65 ribu. Untuk yang paling mahal merupakan wahana Motor ATV. Kami sempat mati gaya lho karena kebanyakan spot foto, bingung mau gaya gimana lagi untuk hasil yang berbeda, he he he. Ini dia sebagian foto-fotonya.

Batu Flower Garden


5. Batu Night Spectacular (BNS)
Setelah makan malam, rute selanjutnya adalah BNS yang merupakan area permainan modern. Di tempat ini pihak tur dan travel hanya membayar tiket masuk sebagai bagian dari paket yaitu Rp.40 ribu per orang untuk weekend di luar tarif parkir kendaraan, sementara untuk wahana di dalamnya tidak termasuk paket. Kami menyempatkan diri ke beberapa wahana karena sudah malam, yaitu rumah penyihir, berburu hantu, rumah kaca, rockin' tug (dayung berputar), mega mix, sepeda udara, kursi terbang, dan wahana gravitasi. Harga tiketnya bervariasi dari Rp. 10 ribu s/d Rp. 30 ribu per orang.
Batu Night Spectacular


6. Coban Rondo

Warung di area Coban Rondo
Hari keempat merupakan hari kepulangan kami ke tempat masing-masing. Berhubung jadwal pesawat kembali sore hari dan masih ada sisa lokasi paket yang belum didatangi karena lamanya kami di area BFG, yakni Coban Rondo serta Bukit Paralayang dan Taman Langit, kami tidak terlalu lama di area tersebut. Kami menuju Coban Rondo sekitar pukul 06.55 WIB dan tiba sekitar pukul 07.20 WIB. Seperti spot wisata lainnya, di kawasan Coban Rondo juga diisi oleh pedagang makanan dan minuman dengan tempat berjualan yang berderet rapi.


Harga tiket masuk ke Coban Rondo di saat weekend Rp.18 ribu di luar tarif parkir kendaraan.

Di Coban Rondo terdapat sebuah lempengan yang bertuliskan alasan penamaan air terjun ini disebut demikian yang berasal dari bahasa Jawa dan disebut Legenda Coban Rondo. Coban artinya air terjun dan Rondo artinya janda. Berdasarkan isi tulisan lempengan tersebut, dikisahkan bahwa penamaan itu berasal dari sepasang pengantin yang baru saja menikah, yaitu antara Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mencapai 36 hari (selapan), Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Kedua orangtua Dewi Anjarwati melarang keduanya pergi karena baru melewati selapan, namun Dewi Anjarwati bersikeras untuk berangkat.
Dalam perjalanan, keduanya bertemu dengan Joko Lelono yang disebutkan tidak jelas asal-usulnya. Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebut istri Raden Baron Kusuma tersebut. Perkelahian pun terjadi. Sebelum bertarung, Raden Baron Kusuma berpesan pada punokawan (teman) yang mernyertai mereka untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di suatu tempat yang ada air terjunnya (coban). Perkelahian tersebut berakhir mengenaskan, Raden Baron Kusuma dan Joko Lelono sama-sama tewas sehingga Dewi Anjarwati menjadi seorang janda (rondo). Sejak itu, coban tempat persembunyian Dewi Anjarwati disebut Coban Rondo. Batu besar di bawah air terjun konon merupakan tempat duduk sang putri.
Udara di Coban Rondo cukup dingin. Saat kami mencoba turun di bebatuan, suhu air sangat dingin seperti air es dan membekukan kaki.





Coban Rondo


7. Bukit Paralayang dan Taman Langit
Rute terakhir sebelum kembali ke daerah masing-masing adalah Bukit Paralayang dan Taman Langit. Rutenya agak mendaki. Rasanya dari hari pertama sampai hari keempat, Kota Batu memang dilalui dengan mendaki, hingga di jalan kawasan penginapan. Hal ini disebabkan Batu yang dikelilingi oleh pegunungan dengan jalan-jalan naik turun. Tempat ini disebut juga Taman Langit Gunung Banyak karena pemandangan saat kita menoleh ke kiri-kanan maupun depan-belakang adalah gunung-gunung. Harga tiket masuk Taman Langit sebesar Rp. 10 ribu per orang di luar tarif parkir kendaraan.
Cukup banyak spot foto di sini, dan di area paling tinggi terdapat sebuah rumah kayu yang disebut Omah Kayu. Omah artinya rumah.

Omah Kayu
Selesai sudah wisata Batu-Malang. Meskipun masih banyak tempat wisata yang belum didatangi di daerah ini, namun 7 (tujuh) tempat wisata tersebut sudah memberikan kepuasan tersendiri bagi saya :)


Indonesia dengan pesona alam dan budayanya memang sangat menarik untuk dikunjungi dari timur ke barat, dari sabang hingga merauke.

Tuesday, 3 July 2018

Obyek Wisata Candi-Candi Menakjubkan di Bangkok, Thailand

Bangkok merupakan ibukota negara Thailand yang terletak di kawasan Asia Tenggara.  Kota ini terletak di tepi barat Sungai Chao Phraya, dekat Teluk Thailand. Bersumber dari Wikipedia Indonesia pada url: https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand, sebanyak 94,50% penduduk Thailand beragama Buddha. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila terdapat banyak candi/kuil di Thailand, begitu juga dengan di Bangkok, dengan bangunan yang berukuran kecil, sedang, hingga besar. 

Saya beserta saudara dan teman mengunjungi sejumlah candi yang menjadi tujuan wisata di Bangkok beberapa waktu lalu, seperti Wat Phra Kaew yang satu kompleks dengan The Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, dan Wat Saket. Aturan untuk memasuki empat tempat ini sama karena selain merupakan obyek wisata juga merupakan kuil/candi yang beberapa ruangannya dapat digunakan untuk menghormati Buddha bagi pemeluk agamanya, yaitu berpakaian sopan (menggunakan celana panjang atau rok panjang, menggunakan baju berlengan). Akses utama untuk mencapai beberapa tempat wisata candi populer di Bangkok tersebut adalah menggunakan kapal melalui Sungai Chao Phraya. Kapal yang digunakan ada yang berbendera biru, kuning, merah, dan oranye, serta ada yang tidak menggunakan bendera. 
Harga tiket yang dijual bervariasi, yaitu antara 8-50 Baht sekali berangkat ke satu tujuan. Saran saya, gunakanlah kapal berbendera oranye karena harga tiketnya tetap dan lebih terjangkau, yaitu 15 Baht sekali berangkat. Khusus Wat Saket, lokasinya berbeda dan bukan dicapai melalui sungai, tetapi darat.
Karena tempat menginap kami berada di seputar kawasan Samsen Road, maka kami menuju ke Dermaga Thewet (Thewet Pier) atau bisa juga disebut Thewes Pier sesuai dengan nama bangunan yang tertera yang berlokasi di Jalan Krung Kasem (Krung Kasem Road) yang jaraknya tidak begitu jauh dari Samsen Road. Kalau dilihat dari peta melalui GPS (Global Positioning System), jarak antara tempat kami menginap dengan Thewet Pier adalah sekitar 1,4 kilometer. Dari tempat ini, rute kami secara berurutan adalah The Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Pho. Pemberhentian terakhir kapal adalah Asiatique yang merupakan tempat belanja alternatif dan terkenal dengan bianglalanya.
Thewet Pier/Thewes Pier
 
1. The Grand Palace dan Wat Phra Kaew
Pemberhentian pertama kami adalah The Grand Palace dan Wat Phra Kaew yang kompleksnya sama, yaitu di kawasan Thanon Na Phra Lan. The Grand Palace terbuka untuk umum setiap hari pukul 08.30-16.00 WIB (08.30 AM - 04.00 PM).
Lokasi dan Tiket Masuk The Grand Palace Bangkok
Untuk masuk kawasan The Grand Palace dan Wat Phra Kaew/Temple of The Emerald Buddha, masing-masing pengunjung dikenakan biaya sebesar 500 Baht atau sekitar Rp. 225 ribu (1 Baht = Rp.450 saat kami berangkat). Saat memasuki kawasan ini, kita diperlihatkan bentuk bangunan yang indah dan rumit dari segi arsitektur.
Temple of The Emerald Buddha
The Grand Palace


Dicuplik dari Wikipedia Indonesia pada url: https://id.wikipedia.org/wiki/Wat_Phra_Kaew
Wat Phra Kaew atau Temple of The Emerald Buddha atau Kuil Buddha Zamrud mempunyai nama lengkap Wat Phra Sri Rattana Satsadaram. Kuil ini merupakan salah satu kuil Buddha terpenting di Thailand yang terletak di area istana utama pada The Grand Palace Bangkok. Pembangunan kuil ini dimulai ketika raja Buddha Yodfa Chulaloke (Rama I) memindahkan ibu kota dari Thonburi ke Bangkok pada tahun 1785. Tidak seperti kuil lainnya yang mempunyai kamar untuk para biksu, kuil ini hanya diperuntukkan sebagai bangunan suci, patung-patung dan pagoda-pagoda.



2. Wat Pho
Setelah mengunjungi The Grand Palace dan Wat Phra Kaew, perjalanan kami selanjutnya adalah ke Wat Pho. Jarak dari dari The Grand Palace ke Wat Pho adalah sekitar 450 meter yang ditempuh menggunakan kapal berbendera oranye dengan harga tiket 15 Baht per orang. Sesampainya di dermaga, kami berjalan kami melewati pasar Tha Tien yang menjual berbagai makanan, minuman, dan oleh-oleh khas Bangkok. Beberapa puluh meter kemudian, sampailah kami di kawasan Wat Pho yang berlokasi di Distrik Rattanakosin. Tiket masuk ke Wat Pho sebesar 100 Baht dengan gratis satu botol air mineral yang ditukar pada sebuah kios di lokasi. Wat Pho terbuka setiap hari untuk umum pukul 08.30-17.30 WIB (08.30 AM - 05.30 PM).
Obyek paling menarik di Wat Pho adalah Buddha yang sedang berbaring menyamping atau The Reclining Buddha dengan ukuran yang besar, selain terdapat candi-candi kecil yang berjumlah cukup banyak dan sangat menarik untuk dilihat. Wat Pho merupakan salah satu kuil tertua di Bangkok. Patung Buddha Berbaring yang menjadi daya tarik utamanya berukuran panjang 46 meter dan tinggi 15 meter dan dilapisi dengan emas murni.
The Reclining Buddha

3. Wat Arun 
Tempat yang kami datangi selanjutnya adalah Wat Arun atau Temple of Dawn atau Kuil/Candi Fajar yang terletak di kawasan Wang Doem, Distrik Bangkok Yai. Untuk mencapai lokasi tersebut, kami menyeberang menggunakan kapal dengan harga tiket 4 Baht. Tiket masuk ke kuil yang bernuansa warna putih ini adalah sebesar 50 Baht dan terbuka untuk umum setiap hari pukul 08.30-17.30 WIB (08.30 AM - 05.30 PM).
Wat Arun
Anak tangga untuk naik hampir ke puncak Wat Arun (dekat puncak ditutup untuk umum) terbilang unik karena ukurannya dibuat sempit, sehingga pengunjung harus berhati-hati setiap naik dan turun anak tangga.
Karena banyaknya wisatawan dari Indonesia ke sini, terdapat tulisan pemberitahuan berbahasa Indonesia (selain bahasa negara lain) yang meminta agar pengunjung tidak membuang sampah dan rokok ke lantai.

Di area Wat Arun terdapat pedagang yang menjual berbagai suvenir dan kebanyakan dapat berbahasa Indonesia. Hal ini cukup memudahkan turis asal Indonesia untuk berkomunikasi dengan pedagang-pedagang tersebut. Hal unik lainnya, kita bisa mencoba menggunakan baju khas Thailand dengan membayar sebesar 100 Baht kepada pedagang di kawasan tersebut. Pakaian yang kita gunakan tidak dilepas, tetapi langsung ditutup dengan kain dan aksesoris khas Thailand.


4. Wat Saket

Tempat selanjutnya yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Wat Saket atau Golden Mount atau Bukit Emas yang berlokasi di Distrik Pom Prap Sattru Phai. Untuk mencapai lokasi ini, jalan darat menjadi akses, tidak lagi melalui sungai. Wat Saket terletak di bukit buatandan terbuka untuk umum setiap hari pukul 08.00-19.00 WIB (08.00 AM - 07.00 PM) dengan tiket masuk sebesar 50 Baht per orang. Di area ini terdengar suara para biksu yang membaca doa menggunakan bahasa Thai.
Untuk mencapai puncak bangunan, pengunjung harus menaiki anak tangga beton yang dicat merah, Suasana sejuk terasa beberapa meter saat naik ke atas karena kiri dan kanan bangunan ditumbuhi pepohonan dan adanya alat yang senantiasa mengeluarkan air embun, meskipun beberapa meter sesudahnya terasa panas karena tidak ada penghalang sinar matahari. Namun, di puncak  bangunan kesejukan kembali terasa karena adanya angin berhembus pada bangunan yang cukup tinggi ini. Di puncak bangunan terdapat tempat untuk umat Buddha memberikan penghormatan terhadap Buddha. Apabila kita berkeliling, di sisi lain puncak bangunan dijajakan makanan, minuman, dan suvenir bagi wisatawan. Bahkan, ada yang menjual es krim dan akan menambah kesegaran setelah merasakan panas beberapa meter menuju puncak bangunan.Dari puncak bangunan, kita dapat melihat bangunan-bangunan di Bangkok.


Masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di Bangkok. Empat candi di atas hanyalah sebagian yang dikunjungi wisatawan karena sudah populer. Keep traveling and be happy.









Wednesday, 23 May 2018

Danau Biru Katingan, Dominannya Warna Hijau

Danau Biru. Inilah nama yang diberikan warga setempat. Danau Biru terletak di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk mencapai salah satu obyek wisata ini bagi masyarakat yang berdomisili di Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, jarak tempuhnya adalah sekitar 100 kilometer (km) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit (90 menit) hingga 1 jam 45 menit (135 menit).
Saya menggunakan patokan Palangka Raya disebabkan daerahnya terletak di tengah-tengah wilayah Kalimantan Tengah. Global Positioning System (GPS) belum dapat menjangkau danau ini karena peta secara online baru mencapai jarak sekitar 83 km setelah memasuki wilayah yang bernama Pendahara. Jadi, jangan sungkan bertanya dengan warga setempat di mana lokasi Danau Biru.
Untuk memudahkan saya apabila ingin ke danau ini lagi, saya mengabadikan plang petunjuk arah. Saya mulai mengambil foto saat baru memasuki Kasongan di Jalan Tjilik Riwut Km 69. Selanjutnya, ada jalan yang bernama Jl. Jenderal Sudirman, masuklah ke jalan tersebut yang letaknya berada di sebelah kanan jalan. Teruslah mengikuti jalan beraspal pada jalan ini hingga kita melihat plang yang salah satu petunjuknya adalah arah Pendahara/Buntut Bali. Plang tersebut dekat dengan simpang empat, ambillah jalan ke kanan dan teruslah mengikuti jalan tersebut. Pada simpangan berikutnya (simpang tiga), terdapat petunjuk arah Pendahara lurus ke depan dan Buntut Bali yang berbelok ke kanan. Ambillah jalan ke kanan (Buntut Bali) dan ikutilah jalannya hingga kita menemukan petunjuk arah lagi yang salah satunya menyebutkan nama Tewang Rangkang, Tumbang Terusan yang tanda panahnya ke arah kiri. Berbeloklah ke arah kiri. Di tempat ini kita akan menemukan papan nama berwarna putih yang bertuliskan "Selamat Datang di Desa Tewang Rangkang dan Objek Wisata Danau Biru". Beberapa meter dari papan nama tersebut, kita sudah melihat Danau Biru yang lokasinya ada di sebelah kanan jalan.
Saya ke sini sudah ketiga kalinya dan baru kali ini menuliskan tentang Danau Biru Katingan. Danau Biru yang saya lihat dari warna lebih dominan hijau dan sedikit kebiruan alias hijau tosca ini termasuk salah satu spot foto yang indah. Airnya yang jernih dan berwarna hijau tosca dengan gundukan tanah di beberapa tempat bagus digunakan sebagai tempat foto-foto. Untuk hasil videonya meski masih amatir, dapat ditonton di sini:  https://www.youtube.com/watch?v=Zccs_ANuxfY&t=10s
Bersumber dari http://kalteng.prokal.co/read/news/26455-di-balik-pesona-danau-biru-tewang-rangkang-indah-tapi, sebelum terbentuk danau, tempat ini awalnya hanya berupa gundukan tanah biasa. Ketika ada proyek pembangunan badan jalan kabupaten, perusahaan yang menangani proyek membeli areal tersebut dan menjadikannya tempat galian C dengan tujuan untuk menimbun badan jalan yang ditangani. Bekas galian tersebut membentuk suatu danau dan seiring berjalannya waktu warnanya menjadi hijau tosca. Danau tersebut kemudian dinamakan Danau Biru oleh warga setempat.
Masih dari sumber yang sama, air yang berwarna hijau kebiruan ini disebabkan oleh berlimpahnya plankton di kawasan danau. Dari hasil uji kualitas air yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Katingan (sekarang menjadi Dinas Lingkungan Hidup/DLH) di Laboratorium BLH, terdapat empat dari 18 paramater yang melebihi ambang batas baku mutu, yaitu pH atau derajat keasaman, Biological Oxygen Demand (BOD), Amonia bebas (NH-N) dan Total Suspended Solids (TSS). Tingginya ambang batas buku mutu empat paramater tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya mual, diare, bahkan berpotensi membawa parasit apabila masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, masyarakat disarankan tidak menjadikan air di Danau Biru untuk mandi, mencuci, atau diminum.
Jadi, dilihat dari pemandangannya, danau ini layak untuk dijadikan lokasi foto-foto. Namun, jika ingin lebih jauh seperti mandi, mencuci, atau meminum airnya, sebaiknya jangan ya.....

Sunday, 7 February 2016

Asyiknya Dunia 2D Kartun dan Komik

Akhir-akhir ini otak rasanya menjadi otaku (orang yang konsisten menyukai sesuatu, biasanya identik dengan orang menggemari anime, manga/comic, video game, superhero, music, etc). Bagaimana tidak, setiap hari yang dipantau adalah anime (kartun) dan manga (komik) online (daring). Rasanya kian menjauh az dari dunia nyata.
Kalau digambarkan, mungkin begini tingkat ke-otaku-an-ku, ha ha ha

Dunia 2D alias dua dimensi memang menarik perhatian. Karakter yang dibuat oleh pengarang sangat kuat hingga membuat pembaca dan penonton semakin hanyut dalam ceritanya. Gara-gara karakter tersebut, pembaca dan penonton yang terhanyut semakin lupa kalau dia hidup di dunia nyata, bukan dunia maya. 
Bersumber dari wikipedia, dua dimensi atau dua bidang adalah bentuk dari benda yang memiliki panjang dan lebar. Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang seni, animasi, komputer, dan matematika.
Dua dimensinya anime dan manga saat ini merupakan perpaduan animasi dan komputer, yaitu gambar-gambar yang dibuat menggunakan komputer sehingga terlihat bergerak di layar. Kenapa bisa terlihat bergerak? Karena begitu banyak gambar yang dibuat hanya untuk menjelaskan satu benda. Bagi yang menyukai karakter dengan gerakan cukup mendetail hingga menghasilkan gerakan yang halus, pasti akan banyak gambar yang dibuat, misalnya buku yang awalnya tertutup dan kemudian dibuka seseorang harus dibuat hingga puluhan bahkan ratusan gambar. Wowww, salut dengan pembuatnya.
Bagaimana pandanganku terhadap dunia ini? Hanya satu kata, KAGUM. Aku sangat kagum dengan kreativitas pengarang. Mereka memiliki imajinasi yang sangat tinggi. Imajinasi tersebut mereka tuangkan dalam bentuk gambar baik bergerak (anime) maupun tidak (manga) dan dipublikasikan. Publikasi tersebut disukai oleh penonton dan pembaca, paling disukai lagi kalau sifatnya open source alias gratis.
Di era serba canggih ini, gratis adalah hal-hal yang disukai, meski tentu saja bukan gratis untuk semua hal karena tetap harus bayar saat buka internet. Istilahku, gratis yang bertanggung jawab, he he he. Agar tidak terjadi kekesalan saat menonton anime online atau membaca manga online akibat jaringan internet yang sewaktu-waktu tersendat-sendat, penonton dan pembaca harus siap-siap dengan upaya penenangan diri. Siapkan minuman minimal air putih dan cemilan di depan komputer, siapkan bantal yang jadi sandaran punggung, buat diri senyaman mungkin, kemudian bacalah dan tontonlah dengan tenang. Selamat menikmati dunia dua dimensi.